Ini bukan masalah penyesalan, aku tak pernah menyesal mengenalmu. Kamu dan hidupmu dulunya adalah bagian dari perjalanan ku di dunia. Alam lah yang mempertemukan kita dan alam pula yang memisahkan kita dengan 'jarak'. Tak ada yang perlu disalahkan, tak ada yang perlu di sesali lagi, karena kita tak selalu 'berantakan' kita juga pernah merasa sama-sama 'bahagia'. Mari flashback sedikit ke kenangan manis yang mampu membuat hati kita teduh...
Masih ingat gereja kita? Gereja dimana kita sama-sama memuliakan Tuhan. Gereja dimana mata mu dan mata ku saling beradu :')
Masih ingat pertemuan kita yang benar-benar tidak disengaja ketika aku pulang sekolah? Kala itu sang mentari sangat menyengat kulit, dan kamu mengirimkan pesan pendek untuk ku. Itu kali pertamanya kita berbalas pesan, bukan?
Lalu bagaimana dengan kamu yang sering menjemput ku ke sekolah? Mengantarkan aku kemanapun aku mau pergi, lalu kamu dengan senang hati menjemput ku kembali.
Masih ingat dengan warung es kelapa? Bengkel teman mu dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu..
Sepertinya cukup, aku tak ingin mengetik terlalu banyak tentang kenangan-kenangan itu karena aku yakin kamu masih mengingatnya dengan jelas.
Namun satu yang harus ku katakan, pertemuan terakhir kita di malam kudus kelahiran Yesus, takkan pernah hilang dari ingatan ku, senyum mu, senyum ku, doa mu, doa ku, malam natal yang indah. Biarpun begitu singkat, namun aku begitu bahagia.
Sayang sekali kebahagiaan itu tak bertahan lama. Sikapku yang salah dimatamu, selalu membuatmu marah. Aku hampir putus asa. Tampaknya aku dan kamu memang harus benar-benar usai. Mengingat pertengkaran kita malam itu, mengingat kasarnya kamu padaku, aku mundur.
Aku takkan pernah kembali lagi.
-PutriH